Ita Yuliati, Presdir PT Alita Praya Mitra Bukan Sekedar Jualan, Tapi Cari Mitra
MEMASARKAN kompetensi bangsa Indonesia ke manca negara bukan perkara ringan. Berbagai pemberitaan tentang Indonesia yang berat sebelah oleh stasiun televisi asing adalah salah satu tantangannya.
Meski demikian banyak juga pebisnis dari Tanah Air yang menyingkirkan kenyataan tersebut dan membangun kepercayaan di negeri lain. Ita Yuliati, Presiden Direktur PT Alita Praya Mitra, adalah salah satu pewirausaha yang tak patah semangat membangun nama di kancah internasional. "Memang kenyataannya, banyak orang di luar negeri yang mempertanyakan kondisi Indonesia. Tetapi saya selalu bilang kalau Indonesia bukan satu-satunya negara yang diteror bom. Ada negara lain juga. Kenapa Indonesia saja yang selalu disorot?," katanya.
Tak sekadar berbicara, pada saat bersamaan pengusaha di bidang bidang tekhnologi informasi dan telekomunikasi ini juga berusaha membangun kepercayaan orang yang hendak bermitra dengan perusahaannya. Meski dia juga memahami bahwa hal ini tidak semudah mengedipkan kelopak mata. "Buat saya, kepercayaan itu sangat penting," katanya.
Oleh karena itu ketika ditunjuk sebagai mitra, Ita dan timnya berusaha tampil sebaik mungkin dan rela berkorban tunai di depan, semisal dengan mengeluarkan cost terlebih dahulu. Karena Ita berprinsip, kepercayaan baru bisa lahir setelah adanya kerja keras.
Prinsip ini juga dipakai perusahaannya saat Alita bermitra dengan NEC sejak beberapa tahun lalu. "Saya selalu bilang, Anda lihat dulu cara dan hasil kerja saya, setelah itu let‘ s talk about business. Kalau orang mau percaya kepada kita, do something," katanya.
Boleh jadi prinsip inilah yang memudahkan langkah Alita berbisnis di dunia internasional. Tak heran, pasar Kamboja pun berada di genggamannya. Alita sudah menancapkan kukunya di Kamboja sejak 1996. Kala itu, Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi di seluruh Kamboja setelah diminta pihak Indosat. Padahal momentum ini terjadi hanya setahun setelah dia mendirikan Alita dengan dua personil, yakni satu direktur yang tak lain Ita sendiri dan satu pramukantor.
Pada pertengahan 2005, Alita juga mulai menjajagi merambah pasar Eropa Timur, melalui Negara Hongaria. Karena Hongaria dianggap sebagai negara yang cukup strategis diantara negara-negara tetangganya, seperti Bosnia, Kroasia, Serbia, Macedonia, Bulgaria dll. Pada November 2007 lalu Alita akhirnya memutuskan mendirikan anak perusahaan di sana dengan nama Alita Europe Kft.
Bukan tanpa rintangan bila Ita melenggang di negeri manca. Tetapi yang pasti, feeling dan sense berbicara kuat saat dia hendak memulai bisnis di sana. "Inspirasi itu terkadang datangnya tidak bisa diprediksi. Saya sering sekali datang ke Eropa. Seperti ke Jerman, Prancis atau Italia. Tetapi saya tidak mendapatkan feeling untuk bisnis. Saat ke Kamboja dan Hongaria, saya dapat feelingnya. Karena saya melihat banyak hal, termasuk lingkungan di negaranya.
Ita mengakui dirinya sangat menyukai "tantangan". "Jadi pada saat saya ke Kamboja, bukan negara "miskin" yang saya lihat dari Kamboja, namun opportunity yang ada di negara tersebut. Demikian pula pada saat saya ke Hongaria. Bukan Negara Hongaria-nya yang menjadi sasaran utama, namun justru negara sekitarnya, yang mana kondisi di negara-negara tersebut masih sedikit dibawah Indonesia. Sehingga kesempatan untuk membawa kompetensi Indonesia masih terbuka lebar," katanya.
Pada saat mengadakan penjajagan bisnis, Ita juga memiliki prinsip unik. "Saya tidak pernah berpikir apa yang bisa saya jual," katanya. Tetapi sebaliknya dia berpikir kerja sama apa yang bisa dilakukan di antara kedua pihak. "Karena saya pikir bahwa kerja sama jauh lebih berharga dari proyek itu sendiri," katanya lagi.
Setelah berhasil go international, Ita tidak ingin bila kesempatan tersebut hanya dinikmati perusahaannya. Kalau bisa semua perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing di pasar asing dan merasakan perjuangan berdiri di dunia internasional. "Dengan demikian nama Indonesia akan bertambah baik. Karena saya betul-betul ingin image Indonesia lebih baik lagi di dunia luar," katanya
Menurut Ita, banyak sekali sebetulnya perusahaan Indonesia yang mempunyai kemampuan cukup besar, namun belum mendapatkan kesempatan. Salah satunya adalah PT. INTI, tempatnya menimba ilmu dunia pertelekomunikasian sejak 1983 sampai dengan 1989. Saat ini Ita ingin sekali menjajagi kerjasama dengan INTI untuk memperkenalkannya ke dunia Internasional, terutama ke negara dimana Alita berada seperti Kamboja dan juga Eropa Timur."Saya sangat gemas bila melihat perusahaan punya potensi dan produk bagus tetapi belum bisa dijual keluar, dan belum dikenal dunia luar, hanya dikarenakan kurangnya promosi" katanya.
Baginya, "Brand Image" merupakan hal utama dalam bisnis. Ini pula yang mendasari Alita untuk terus mengikuti event-event penting seperti ICT Expo di Indonesia dan juga Communic Asia di Singapore. Target jangka menengah dari Alita adalah mengikuti Expo Internasional lainnya yang lebih besar lagi.
Semakin banyak perusahaan yang go Internasional adalah semakin baik. Ita tidak takut pasar Alita direbut PT Inti ataupun yang lainnya. Karena dia tidak melihat perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pesaing. Sebaliknya dia membuat kerangka Indonesian incorporated dalam kepalanya.
Selama ini Indonesian incorporated belum pernah terwujud, karena menurutnya, masing-masing pihak ingin selalu tampil menjadi "pemenang" . "Kalau ingin mewujudkan itu, maka kita tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus do something. Rasanya untuk melakukan hal itu, sinergi adalah salah satu jawabannya. Sekarang ini kita tidak bisa hanya berpikir menjadi kaya sendiri," katanya.
Saat ini Alita memiliki sembilan anak perusahaan dengan jumlah karyawan yang mencapai 450 orang. Dengan bertambahnya kesempatan ini, Ita justru merasakan beban tanggung jawab yang bertambah besar sebagai seorang pimpinan. Maka dia pun enggan berpuas diri. "Semakin ke sini, rasa tanggung jawab saya semakin bertambah. Apa yang terjadi bila saya leha-leha, berhenti bergerak dan berpikir? Sebagai pimpinan di grup, saya harus selalu memberikan inspirasi dan semangat buat mereka," katanya.
Buat Ita, visi perusahaan merupakan " motivatornya" yang utama, dimana Alita telah mencanangkan untuk menjadi "Global Player" sejak berdiri pada1995, dan sebagai "founder" dari perusahaan. "Maka saya harus tetap konsisten dalam melakukan apapun juga demi tercapainya visi tersebut," katanya.
Sebagai pemimpin, Ita berprinsip bahwa Meski berada di pucuk kepemimpinan bukan berarti dia enggan mendengarkan suara bawahannya. Sebaliknya, Ita menganggap bahwa suara mereka sangat berharga. Contohnya ketika Ita ingin menjajagi pasar di luar ngeri, dia akan meminta timnya mengkaji dulu kondisi pasar. "Kalau tidak visible, saya tidak akan berangkat. Kalau visible, kita diskusikan bagaimana caranya? Saya selalu melibatkan teman-teman di Group Alita dalam planning apa pun juga. Tidak berarti sebagai CEO , maka saya bisa memutuskan segalanya sendirian" katanya.
Selain menyelami dunia telekomunikasi dan TI, Ita juga memiliki bisnis sampingan yaitu restoran dan butik. Dia membuat rumah makan di Phnom Penh, Kamboja dengan nama Bali Café. Dari hitung-hitungan bisnis, Bali Café tidak berkontribusi besar dalam menyalurkan keuntungan. Tetapi dia bangga bisa mendirikan rumah makan tersebut karena di sana kerap dijadikan meeting point bagi seluruh orang Indonesia di Phnom Penh. "Duta besar Indonesia di Kamboja juga kerap mengundang duta besar negara lain makan di sana. Setiap delegasi kepresidenan datang ke Kamboja, panitia kerap memesan katering dari sana," katanya.
Tak hanya itu, beberapa kali transaksi bisnis juga lahir dari obrolan ringan di Bali Café. Sayangnya, sejak dua bulan terakhir, Ita terpaksa menutup sementara restoran itu. Namun Ita berjanji, restoran itu akan segera dibuka kembali.
Kegiatannya di Kamboja juga telah mengilhaminya mencoba bisnis sampingan lain, sekaligus menyalurkan hobinya dalam bidang fashion, yaitu membuka butik yang bernama Rumah Sutera di Dharmawangsa Square, Jakarta.
Baginya dua usaha terakhir adalah penunjang bisnis sekaligus penyalur hobinya. Penunjang bisnis karena dia kerap menggunakan dua wadah bisnis tersebut menjadi salah satu tempat untuk menjalin networking. Sebagai penyalur hobi, karena Ita memang senang memasak dan fashion.
MEMASARKAN kompetensi bangsa Indonesia ke manca negara bukan perkara ringan. Berbagai pemberitaan tentang Indonesia yang berat sebelah oleh stasiun televisi asing adalah salah satu tantangannya.
Meski demikian banyak juga pebisnis dari Tanah Air yang menyingkirkan kenyataan tersebut dan membangun kepercayaan di negeri lain. Ita Yuliati, Presiden Direktur PT Alita Praya Mitra, adalah salah satu pewirausaha yang tak patah semangat membangun nama di kancah internasional. "Memang kenyataannya, banyak orang di luar negeri yang mempertanyakan kondisi Indonesia. Tetapi saya selalu bilang kalau Indonesia bukan satu-satunya negara yang diteror bom. Ada negara lain juga. Kenapa Indonesia saja yang selalu disorot?," katanya.
Tak sekadar berbicara, pada saat bersamaan pengusaha di bidang bidang tekhnologi informasi dan telekomunikasi ini juga berusaha membangun kepercayaan orang yang hendak bermitra dengan perusahaannya. Meski dia juga memahami bahwa hal ini tidak semudah mengedipkan kelopak mata. "Buat saya, kepercayaan itu sangat penting," katanya.
Oleh karena itu ketika ditunjuk sebagai mitra, Ita dan timnya berusaha tampil sebaik mungkin dan rela berkorban tunai di depan, semisal dengan mengeluarkan cost terlebih dahulu. Karena Ita berprinsip, kepercayaan baru bisa lahir setelah adanya kerja keras.
Prinsip ini juga dipakai perusahaannya saat Alita bermitra dengan NEC sejak beberapa tahun lalu. "Saya selalu bilang, Anda lihat dulu cara dan hasil kerja saya, setelah itu let‘ s talk about business. Kalau orang mau percaya kepada kita, do something," katanya.
Boleh jadi prinsip inilah yang memudahkan langkah Alita berbisnis di dunia internasional. Tak heran, pasar Kamboja pun berada di genggamannya. Alita sudah menancapkan kukunya di Kamboja sejak 1996. Kala itu, Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi di seluruh Kamboja setelah diminta pihak Indosat. Padahal momentum ini terjadi hanya setahun setelah dia mendirikan Alita dengan dua personil, yakni satu direktur yang tak lain Ita sendiri dan satu pramukantor.
Pada pertengahan 2005, Alita juga mulai menjajagi merambah pasar Eropa Timur, melalui Negara Hongaria. Karena Hongaria dianggap sebagai negara yang cukup strategis diantara negara-negara tetangganya, seperti Bosnia, Kroasia, Serbia, Macedonia, Bulgaria dll. Pada November 2007 lalu Alita akhirnya memutuskan mendirikan anak perusahaan di sana dengan nama Alita Europe Kft.
Bukan tanpa rintangan bila Ita melenggang di negeri manca. Tetapi yang pasti, feeling dan sense berbicara kuat saat dia hendak memulai bisnis di sana. "Inspirasi itu terkadang datangnya tidak bisa diprediksi. Saya sering sekali datang ke Eropa. Seperti ke Jerman, Prancis atau Italia. Tetapi saya tidak mendapatkan feeling untuk bisnis. Saat ke Kamboja dan Hongaria, saya dapat feelingnya. Karena saya melihat banyak hal, termasuk lingkungan di negaranya.
Ita mengakui dirinya sangat menyukai "tantangan". "Jadi pada saat saya ke Kamboja, bukan negara "miskin" yang saya lihat dari Kamboja, namun opportunity yang ada di negara tersebut. Demikian pula pada saat saya ke Hongaria. Bukan Negara Hongaria-nya yang menjadi sasaran utama, namun justru negara sekitarnya, yang mana kondisi di negara-negara tersebut masih sedikit dibawah Indonesia. Sehingga kesempatan untuk membawa kompetensi Indonesia masih terbuka lebar," katanya.
Pada saat mengadakan penjajagan bisnis, Ita juga memiliki prinsip unik. "Saya tidak pernah berpikir apa yang bisa saya jual," katanya. Tetapi sebaliknya dia berpikir kerja sama apa yang bisa dilakukan di antara kedua pihak. "Karena saya pikir bahwa kerja sama jauh lebih berharga dari proyek itu sendiri," katanya lagi.
Setelah berhasil go international, Ita tidak ingin bila kesempatan tersebut hanya dinikmati perusahaannya. Kalau bisa semua perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing di pasar asing dan merasakan perjuangan berdiri di dunia internasional. "Dengan demikian nama Indonesia akan bertambah baik. Karena saya betul-betul ingin image Indonesia lebih baik lagi di dunia luar," katanya
Menurut Ita, banyak sekali sebetulnya perusahaan Indonesia yang mempunyai kemampuan cukup besar, namun belum mendapatkan kesempatan. Salah satunya adalah PT. INTI, tempatnya menimba ilmu dunia pertelekomunikasian sejak 1983 sampai dengan 1989. Saat ini Ita ingin sekali menjajagi kerjasama dengan INTI untuk memperkenalkannya ke dunia Internasional, terutama ke negara dimana Alita berada seperti Kamboja dan juga Eropa Timur."Saya sangat gemas bila melihat perusahaan punya potensi dan produk bagus tetapi belum bisa dijual keluar, dan belum dikenal dunia luar, hanya dikarenakan kurangnya promosi" katanya.
Baginya, "Brand Image" merupakan hal utama dalam bisnis. Ini pula yang mendasari Alita untuk terus mengikuti event-event penting seperti ICT Expo di Indonesia dan juga Communic Asia di Singapore. Target jangka menengah dari Alita adalah mengikuti Expo Internasional lainnya yang lebih besar lagi.
Semakin banyak perusahaan yang go Internasional adalah semakin baik. Ita tidak takut pasar Alita direbut PT Inti ataupun yang lainnya. Karena dia tidak melihat perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pesaing. Sebaliknya dia membuat kerangka Indonesian incorporated dalam kepalanya.
Selama ini Indonesian incorporated belum pernah terwujud, karena menurutnya, masing-masing pihak ingin selalu tampil menjadi "pemenang" . "Kalau ingin mewujudkan itu, maka kita tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus do something. Rasanya untuk melakukan hal itu, sinergi adalah salah satu jawabannya. Sekarang ini kita tidak bisa hanya berpikir menjadi kaya sendiri," katanya.
Saat ini Alita memiliki sembilan anak perusahaan dengan jumlah karyawan yang mencapai 450 orang. Dengan bertambahnya kesempatan ini, Ita justru merasakan beban tanggung jawab yang bertambah besar sebagai seorang pimpinan. Maka dia pun enggan berpuas diri. "Semakin ke sini, rasa tanggung jawab saya semakin bertambah. Apa yang terjadi bila saya leha-leha, berhenti bergerak dan berpikir? Sebagai pimpinan di grup, saya harus selalu memberikan inspirasi dan semangat buat mereka," katanya.
Buat Ita, visi perusahaan merupakan " motivatornya" yang utama, dimana Alita telah mencanangkan untuk menjadi "Global Player" sejak berdiri pada1995, dan sebagai "founder" dari perusahaan. "Maka saya harus tetap konsisten dalam melakukan apapun juga demi tercapainya visi tersebut," katanya.
Sebagai pemimpin, Ita berprinsip bahwa Meski berada di pucuk kepemimpinan bukan berarti dia enggan mendengarkan suara bawahannya. Sebaliknya, Ita menganggap bahwa suara mereka sangat berharga. Contohnya ketika Ita ingin menjajagi pasar di luar ngeri, dia akan meminta timnya mengkaji dulu kondisi pasar. "Kalau tidak visible, saya tidak akan berangkat. Kalau visible, kita diskusikan bagaimana caranya? Saya selalu melibatkan teman-teman di Group Alita dalam planning apa pun juga. Tidak berarti sebagai CEO , maka saya bisa memutuskan segalanya sendirian" katanya.
Selain menyelami dunia telekomunikasi dan TI, Ita juga memiliki bisnis sampingan yaitu restoran dan butik. Dia membuat rumah makan di Phnom Penh, Kamboja dengan nama Bali Café. Dari hitung-hitungan bisnis, Bali Café tidak berkontribusi besar dalam menyalurkan keuntungan. Tetapi dia bangga bisa mendirikan rumah makan tersebut karena di sana kerap dijadikan meeting point bagi seluruh orang Indonesia di Phnom Penh. "Duta besar Indonesia di Kamboja juga kerap mengundang duta besar negara lain makan di sana. Setiap delegasi kepresidenan datang ke Kamboja, panitia kerap memesan katering dari sana," katanya.
Tak hanya itu, beberapa kali transaksi bisnis juga lahir dari obrolan ringan di Bali Café. Sayangnya, sejak dua bulan terakhir, Ita terpaksa menutup sementara restoran itu. Namun Ita berjanji, restoran itu akan segera dibuka kembali.
Kegiatannya di Kamboja juga telah mengilhaminya mencoba bisnis sampingan lain, sekaligus menyalurkan hobinya dalam bidang fashion, yaitu membuka butik yang bernama Rumah Sutera di Dharmawangsa Square, Jakarta.
Baginya dua usaha terakhir adalah penunjang bisnis sekaligus penyalur hobinya. Penunjang bisnis karena dia kerap menggunakan dua wadah bisnis tersebut menjadi salah satu tempat untuk menjalin networking. Sebagai penyalur hobi, karena Ita memang senang memasak dan fashion.

