<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">

<channel>

<title>ALITA NewsFeed</title>

<link>http://alita-indonesia.com</link>

<description>Company website</description>

<copyright>Copyright 2008</copyright>

<lastBuildDate>Sat, 13 Mar 2010 18:41:59 +0700</lastBuildDate>

<generator>ALITA</generator>

 

<item>

<title>Sitemap</title>



<content:encoded><![CDATA[<a href="read.php?cat=1&amp;gid=1">INTRODUCTION</a><br /><br /> <strong>ALITA HISTORY</strong><br /><a href="read.php?cat=2&amp;gid=2">&bull; History &amp; Milestone</a><br /><a href="read.php?cat=3&amp;gid=3">&bull; Vision &amp; Mission</a><br /><a href="read.php?cat=4&amp;gid=4">&bull; Value</a><ul>        </ul><strong>ALITA TODAY</strong><br />  <a href="read.php?cat=5&amp;gid=5">&bull; Business Power</a><br /><a href="read.php?cat=6&amp;gid=6">&bull; Subsidiary Company</a><br /><a href="read.php?cat=7&amp;gid=7">&bull; Partners</a><br /><a href="read.php?cat=8&amp;gid=8">&bull; Clients</a><br /><a href="read.php?cat=9&amp;gid=9">&bull; ALITA Track Records</a><ul>            </ul>  <a href="read.php?cat=10&amp;gid=10">ALITA SERVICES</a><br />  <a href="read.php?cat=11&amp;gid=11">ALITA BEING RESPONSIBLE</a><br />  <a href="read.php?cat=12&amp;gid=12">WHERE YOU FIND ALITA</a><br />  <a href="read.php?cat=13&amp;gid=13">ALITA IN THE FUTURE</a><br />  <a href="read.php?cat=14&amp;gid=14">ALITA MANAGEMENT</a><br />  <a href="read.php?cat=15&amp;gid=15">ALITA GROUP PRESENTATION</a><br /><a href="../gallery.php">GALLERY</a><br /><a href="read.php?cat=16&amp;gid=16">CONTACT US</a><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=27</link>

<category>Sitemap</category>


</item>  

<item>

<title>Ita Yuliati, Presdir PT Alita Praya Mitra Bukan Sekedar Jualan, Tapi Cari Mitra</title>



<content:encoded><![CDATA[MEMASARKAN kompetensi bangsa Indonesia ke manca negara bukan perkara ringan. Berbagai pemberitaan tentang Indonesia yang berat sebelah oleh stasiun televisi asing adalah salah satu tantangannya.<br /><br />Meski demikian banyak juga pebisnis dari Tanah Air yang menyingkirkan kenyataan tersebut dan membangun kepercayaan di negeri lain. Ita Yuliati, Presiden Direktur PT Alita Praya Mitra, adalah salah satu pewirausaha yang tak patah semangat membangun nama di kancah internasional. &quot;Memang kenyataannya, banyak orang di luar negeri yang mempertanyakan kondisi Indonesia. Tetapi saya selalu bilang kalau Indonesia bukan satu-satunya negara yang diteror bom. Ada negara lain juga. Kenapa Indonesia saja yang selalu disorot?,&quot; katanya.<br />Tak sekadar berbicara, pada saat bersamaan pengusaha di bidang bidang tekhnologi informasi dan telekomunikasi ini juga berusaha membangun kepercayaan orang yang hendak bermitra dengan perusahaannya. Meski dia juga memahami bahwa hal ini tidak semudah mengedipkan kelopak mata. &quot;Buat saya, kepercayaan itu sangat penting,&quot; katanya.<br />Oleh karena itu ketika ditunjuk sebagai mitra, Ita dan timnya berusaha tampil sebaik mungkin dan rela berkorban tunai di depan, semisal dengan mengeluarkan cost terlebih dahulu. Karena Ita berprinsip, kepercayaan baru bisa lahir setelah adanya kerja keras.<br />Prinsip ini juga dipakai perusahaannya saat Alita bermitra dengan NEC sejak beberapa tahun lalu. &quot;Saya selalu bilang, Anda lihat dulu cara dan hasil kerja saya, setelah itu let&lsquo; s talk about business. Kalau orang mau percaya kepada kita, do something,&quot; katanya.<br />Boleh jadi prinsip inilah yang memudahkan langkah Alita berbisnis di dunia internasional. Tak heran, pasar Kamboja pun berada di genggamannya. Alita sudah menancapkan kukunya di Kamboja sejak 1996. Kala itu, Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi di seluruh Kamboja setelah diminta pihak Indosat. Padahal momentum ini terjadi hanya setahun setelah dia mendirikan Alita dengan dua personil, yakni satu direktur yang tak lain Ita sendiri dan satu pramukantor.<br />Pada pertengahan 2005, Alita juga mulai menjajagi merambah pasar Eropa Timur, melalui Negara Hongaria. Karena Hongaria dianggap sebagai negara yang cukup strategis diantara negara-negara tetangganya, seperti Bosnia, Kroasia, Serbia, Macedonia, Bulgaria dll. Pada November 2007 lalu Alita akhirnya memutuskan mendirikan anak perusahaan di sana dengan nama Alita Europe Kft.<br />Bukan tanpa rintangan bila Ita melenggang di negeri manca. Tetapi yang pasti, feeling dan sense berbicara kuat saat dia hendak memulai bisnis di sana. &quot;Inspirasi itu terkadang datangnya tidak bisa diprediksi. Saya sering sekali datang ke Eropa. Seperti ke Jerman, Prancis atau Italia. Tetapi saya tidak mendapatkan feeling untuk bisnis. Saat ke Kamboja dan Hongaria, saya dapat feelingnya. Karena saya melihat banyak hal, termasuk lingkungan di negaranya.<br />Ita mengakui dirinya sangat menyukai &quot;tantangan&quot;. &quot;Jadi pada saat saya ke Kamboja, bukan negara &quot;miskin&quot; yang saya lihat dari Kamboja, namun opportunity yang ada di negara tersebut. Demikian pula pada saat saya ke Hongaria. Bukan Negara Hongaria-nya yang menjadi sasaran utama, namun justru negara sekitarnya, yang mana kondisi di negara-negara tersebut masih sedikit dibawah Indonesia. Sehingga kesempatan untuk membawa kompetensi Indonesia masih terbuka lebar,&quot; katanya.<br />Pada saat mengadakan penjajagan bisnis, Ita juga memiliki prinsip unik. &quot;Saya tidak pernah berpikir apa yang bisa saya jual,&quot; katanya. Tetapi sebaliknya dia berpikir kerja sama apa yang bisa dilakukan di antara kedua pihak. &quot;Karena saya pikir bahwa kerja sama jauh lebih berharga dari proyek itu sendiri,&quot; katanya lagi.<br />Setelah berhasil go international, Ita tidak ingin bila kesempatan tersebut hanya dinikmati perusahaannya. Kalau bisa semua perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing di pasar asing dan merasakan perjuangan berdiri di dunia internasional. &quot;Dengan demikian nama Indonesia akan bertambah baik. Karena saya betul-betul ingin image Indonesia lebih baik lagi di dunia luar,&quot; katanya<br />Menurut Ita, banyak sekali sebetulnya perusahaan Indonesia yang mempunyai kemampuan cukup besar, namun belum mendapatkan kesempatan. Salah satunya adalah PT. INTI, tempatnya menimba ilmu dunia pertelekomunikasian sejak 1983 sampai dengan 1989. Saat ini Ita ingin sekali menjajagi kerjasama dengan INTI untuk memperkenalkannya ke dunia Internasional, terutama ke negara dimana Alita berada seperti Kamboja dan juga Eropa Timur.&quot;Saya sangat gemas bila melihat perusahaan punya potensi dan produk bagus tetapi belum bisa dijual keluar, dan belum dikenal dunia luar, hanya dikarenakan kurangnya promosi&quot; katanya.<br />Baginya, &quot;Brand Image&quot; merupakan hal utama dalam bisnis. Ini pula yang mendasari Alita untuk terus mengikuti event-event penting seperti ICT Expo di Indonesia dan juga Communic Asia di Singapore. Target jangka menengah dari Alita adalah mengikuti Expo Internasional lainnya yang lebih besar lagi.<br />Semakin banyak perusahaan yang go Internasional adalah semakin baik. Ita tidak takut pasar Alita direbut PT Inti ataupun yang lainnya. Karena dia tidak melihat perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pesaing. Sebaliknya dia membuat kerangka Indonesian incorporated dalam kepalanya.<br />Selama ini Indonesian incorporated belum pernah terwujud, karena menurutnya, masing-masing pihak ingin selalu tampil menjadi &quot;pemenang&quot; . &quot;Kalau ingin mewujudkan itu, maka kita tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus do something. Rasanya untuk melakukan hal itu, sinergi adalah salah satu jawabannya. Sekarang ini kita tidak bisa hanya berpikir menjadi kaya sendiri,&quot; katanya.<br />Saat ini Alita memiliki sembilan anak perusahaan dengan jumlah karyawan yang mencapai 450 orang. Dengan bertambahnya kesempatan ini, Ita justru merasakan beban tanggung jawab yang bertambah besar sebagai seorang pimpinan. Maka dia pun enggan berpuas diri. &quot;Semakin ke sini, rasa tanggung jawab saya semakin bertambah. Apa yang terjadi bila saya leha-leha, berhenti bergerak dan berpikir? Sebagai pimpinan di grup, saya harus selalu memberikan inspirasi dan semangat buat mereka,&quot; katanya.<br />Buat Ita, visi perusahaan merupakan &quot; motivatornya&quot; yang utama, dimana Alita telah mencanangkan untuk menjadi &quot;Global Player&quot; sejak berdiri pada1995, dan sebagai &quot;founder&quot; dari perusahaan. &quot;Maka saya harus tetap konsisten dalam melakukan apapun juga demi tercapainya visi tersebut,&quot; katanya.<br />Sebagai pemimpin, Ita berprinsip bahwa Meski berada di pucuk kepemimpinan bukan berarti dia enggan mendengarkan suara bawahannya. Sebaliknya, Ita menganggap bahwa suara mereka sangat berharga. Contohnya ketika Ita ingin menjajagi pasar di luar ngeri, dia akan meminta timnya mengkaji dulu kondisi pasar. &quot;Kalau tidak visible, saya tidak akan berangkat. Kalau visible, kita diskusikan bagaimana caranya? Saya selalu melibatkan teman-teman di Group Alita dalam planning apa pun juga. Tidak berarti sebagai CEO , maka saya bisa memutuskan segalanya sendirian&quot; katanya.<br />Selain menyelami dunia telekomunikasi dan TI, Ita juga memiliki bisnis sampingan yaitu restoran dan butik. Dia membuat rumah makan di Phnom Penh, Kamboja dengan nama Bali Caf&Atilde;&copy;. Dari hitung-hitungan bisnis, Bali Caf&Atilde;&copy; tidak berkontribusi besar dalam menyalurkan keuntungan. Tetapi dia bangga bisa mendirikan rumah makan tersebut karena di sana kerap dijadikan meeting point bagi seluruh orang Indonesia di Phnom Penh. &quot;Duta besar Indonesia di Kamboja juga kerap mengundang duta besar negara lain makan di sana. Setiap delegasi kepresidenan datang ke Kamboja, panitia kerap memesan katering dari sana,&quot; katanya.<br />Tak hanya itu, beberapa kali transaksi bisnis juga lahir dari obrolan ringan di Bali Caf&Atilde;&copy;. Sayangnya, sejak dua bulan terakhir, Ita terpaksa menutup sementara restoran itu. Namun Ita berjanji, restoran itu akan segera dibuka kembali.<br />Kegiatannya di Kamboja juga telah mengilhaminya mencoba bisnis sampingan lain, sekaligus menyalurkan hobinya dalam bidang fashion, yaitu membuka butik yang bernama Rumah Sutera di Dharmawangsa Square, Jakarta.<br />Baginya dua usaha terakhir adalah penunjang bisnis sekaligus penyalur hobinya. Penunjang bisnis karena dia kerap menggunakan dua wadah bisnis tersebut menjadi salah satu tempat untuk menjalin networking. Sebagai penyalur hobi, karena Ita memang senang memasak dan fashion.<br />MEMASARKAN kompetensi bangsa Indonesia ke manca negara bukan perkara ringan. Berbagai pemberitaan tentang Indonesia yang berat sebelah oleh stasiun televisi asing adalah salah satu tantangannya.<br />Meski demikian banyak juga pebisnis dari Tanah Air yang menyingkirkan kenyataan tersebut dan membangun kepercayaan di negeri lain. Ita Yuliati, Presiden Direktur PT Alita Praya Mitra, adalah salah satu pewirausaha yang tak patah semangat membangun nama di kancah internasional. &quot;Memang kenyataannya, banyak orang di luar negeri yang mempertanyakan kondisi Indonesia. Tetapi saya selalu bilang kalau Indonesia bukan satu-satunya negara yang diteror bom. Ada negara lain juga. Kenapa Indonesia saja yang selalu disorot?,&quot; katanya.<br />Tak sekadar berbicara, pada saat bersamaan pengusaha di bidang bidang tekhnologi informasi dan telekomunikasi ini juga berusaha membangun kepercayaan orang yang hendak bermitra dengan perusahaannya. Meski dia juga memahami bahwa hal ini tidak semudah mengedipkan kelopak mata. &quot;Buat saya, kepercayaan itu sangat penting,&quot; katanya.<br />Oleh karena itu ketika ditunjuk sebagai mitra, Ita dan timnya berusaha tampil sebaik mungkin dan rela berkorban tunai di depan, semisal dengan mengeluarkan cost terlebih dahulu. Karena Ita berprinsip, kepercayaan baru bisa lahir setelah adanya kerja keras.<br />Prinsip ini juga dipakai perusahaannya saat Alita bermitra dengan NEC sejak beberapa tahun lalu. &quot;Saya selalu bilang, Anda lihat dulu cara dan hasil kerja saya, setelah itu let&lsquo; s talk about business. Kalau orang mau percaya kepada kita, do something,&quot; katanya.<br />Boleh jadi prinsip inilah yang memudahkan langkah Alita berbisnis di dunia internasional. Tak heran, pasar Kamboja pun berada di genggamannya. Alita sudah menancapkan kukunya di Kamboja sejak 1996. Kala itu, Alita menjajaki proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi di seluruh Kamboja setelah diminta pihak Indosat. Padahal momentum ini terjadi hanya setahun setelah dia mendirikan Alita dengan dua personil, yakni satu direktur yang tak lain Ita sendiri dan satu pramukantor.<br />Pada pertengahan 2005, Alita juga mulai menjajagi merambah pasar Eropa Timur, melalui Negara Hongaria. Karena Hongaria dianggap sebagai negara yang cukup strategis diantara negara-negara tetangganya, seperti Bosnia, Kroasia, Serbia, Macedonia, Bulgaria dll. Pada November 2007 lalu Alita akhirnya memutuskan mendirikan anak perusahaan di sana dengan nama Alita Europe Kft.<br />Bukan tanpa rintangan bila Ita melenggang di negeri manca. Tetapi yang pasti, feeling dan sense berbicara kuat saat dia hendak memulai bisnis di sana. &quot;Inspirasi itu terkadang datangnya tidak bisa diprediksi. Saya sering sekali datang ke Eropa. Seperti ke Jerman, Prancis atau Italia. Tetapi saya tidak mendapatkan feeling untuk bisnis. Saat ke Kamboja dan Hongaria, saya dapat feelingnya. Karena saya melihat banyak hal, termasuk lingkungan di negaranya.<br />Ita mengakui dirinya sangat menyukai &quot;tantangan&quot;. &quot;Jadi pada saat saya ke Kamboja, bukan negara &quot;miskin&quot; yang saya lihat dari Kamboja, namun opportunity yang ada di negara tersebut. Demikian pula pada saat saya ke Hongaria. Bukan Negara Hongaria-nya yang menjadi sasaran utama, namun justru negara sekitarnya, yang mana kondisi di negara-negara tersebut masih sedikit dibawah Indonesia. Sehingga kesempatan untuk membawa kompetensi Indonesia masih terbuka lebar,&quot; katanya.<br />Pada saat mengadakan penjajagan bisnis, Ita juga memiliki prinsip unik. &quot;Saya tidak pernah berpikir apa yang bisa saya jual,&quot; katanya. Tetapi sebaliknya dia berpikir kerja sama apa yang bisa dilakukan di antara kedua pihak. &quot;Karena saya pikir bahwa kerja sama jauh lebih berharga dari proyek itu sendiri,&quot; katanya lagi.<br />Setelah berhasil go international, Ita tidak ingin bila kesempatan tersebut hanya dinikmati perusahaannya. Kalau bisa semua perusahaan di Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk bersaing di pasar asing dan merasakan perjuangan berdiri di dunia internasional. &quot;Dengan demikian nama Indonesia akan bertambah baik. Karena saya betul-betul ingin image Indonesia lebih baik lagi di dunia luar,&quot; katanya<br />Menurut Ita, banyak sekali sebetulnya perusahaan Indonesia yang mempunyai kemampuan cukup besar, namun belum mendapatkan kesempatan. Salah satunya adalah PT. INTI, tempatnya menimba ilmu dunia pertelekomunikasian sejak 1983 sampai dengan 1989. Saat ini Ita ingin sekali menjajagi kerjasama dengan INTI untuk memperkenalkannya ke dunia Internasional, terutama ke negara dimana Alita berada seperti Kamboja dan juga Eropa Timur.&quot;Saya sangat gemas bila melihat perusahaan punya potensi dan produk bagus tetapi belum bisa dijual keluar, dan belum dikenal dunia luar, hanya dikarenakan kurangnya promosi&quot; katanya.<br />Baginya, &quot;Brand Image&quot; merupakan hal utama dalam bisnis. Ini pula yang mendasari Alita untuk terus mengikuti event-event penting seperti ICT Expo di Indonesia dan juga Communic Asia di Singapore. Target jangka menengah dari Alita adalah mengikuti Expo Internasional lainnya yang lebih besar lagi.<br />Semakin banyak perusahaan yang go Internasional adalah semakin baik. Ita tidak takut pasar Alita direbut PT Inti ataupun yang lainnya. Karena dia tidak melihat perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pesaing. Sebaliknya dia membuat kerangka Indonesian incorporated dalam kepalanya.<br />Selama ini Indonesian incorporated belum pernah terwujud, karena menurutnya, masing-masing pihak ingin selalu tampil menjadi &quot;pemenang&quot; . &quot;Kalau ingin mewujudkan itu, maka kita tidak bisa hanya berbicara, tetapi harus do something. Rasanya untuk melakukan hal itu, sinergi adalah salah satu jawabannya. Sekarang ini kita tidak bisa hanya berpikir menjadi kaya sendiri,&quot; katanya.<br />Saat ini Alita memiliki sembilan anak perusahaan dengan jumlah karyawan yang mencapai 450 orang. Dengan bertambahnya kesempatan ini, Ita justru merasakan beban tanggung jawab yang bertambah besar sebagai seorang pimpinan. Maka dia pun enggan berpuas diri. &quot;Semakin ke sini, rasa tanggung jawab saya semakin bertambah. Apa yang terjadi bila saya leha-leha, berhenti bergerak dan berpikir? Sebagai pimpinan di grup, saya harus selalu memberikan inspirasi dan semangat buat mereka,&quot; katanya.<br />Buat Ita, visi perusahaan merupakan &quot; motivatornya&quot; yang utama, dimana Alita telah mencanangkan untuk menjadi &quot;Global Player&quot; sejak berdiri pada1995, dan sebagai &quot;founder&quot; dari perusahaan. &quot;Maka saya harus tetap konsisten dalam melakukan apapun juga demi tercapainya visi tersebut,&quot; katanya.<br />Sebagai pemimpin, Ita berprinsip bahwa Meski berada di pucuk kepemimpinan bukan berarti dia enggan mendengarkan suara bawahannya. Sebaliknya, Ita menganggap bahwa suara mereka sangat berharga. Contohnya ketika Ita ingin menjajagi pasar di luar ngeri, dia akan meminta timnya mengkaji dulu kondisi pasar. &quot;Kalau tidak visible, saya tidak akan berangkat. Kalau visible, kita diskusikan bagaimana caranya? Saya selalu melibatkan teman-teman di Group Alita dalam planning apa pun juga. Tidak berarti sebagai CEO , maka saya bisa memutuskan segalanya sendirian&quot; katanya.<br />Selain menyelami dunia telekomunikasi dan TI, Ita juga memiliki bisnis sampingan yaitu restoran dan butik. Dia membuat rumah makan di Phnom Penh, Kamboja dengan nama Bali Caf&Atilde;&copy;. Dari hitung-hitungan bisnis, Bali Caf&Atilde;&copy; tidak berkontribusi besar dalam menyalurkan keuntungan. Tetapi dia bangga bisa mendirikan rumah makan tersebut karena di sana kerap dijadikan meeting point bagi seluruh orang Indonesia di Phnom Penh. &quot;Duta besar Indonesia di Kamboja juga kerap mengundang duta besar negara lain makan di sana. Setiap delegasi kepresidenan datang ke Kamboja, panitia kerap memesan katering dari sana,&quot; katanya.<br />Tak hanya itu, beberapa kali transaksi bisnis juga lahir dari obrolan ringan di Bali Caf&Atilde;&copy;. Sayangnya, sejak dua bulan terakhir, Ita terpaksa menutup sementara restoran itu. Namun Ita berjanji, restoran itu akan segera dibuka kembali.<br />Kegiatannya di Kamboja juga telah mengilhaminya mencoba bisnis sampingan lain, sekaligus menyalurkan hobinya dalam bidang fashion, yaitu membuka butik yang bernama Rumah Sutera di Dharmawangsa Square, Jakarta.<br />Baginya dua usaha terakhir adalah penunjang bisnis sekaligus penyalur hobinya. Penunjang bisnis karena dia kerap menggunakan dua wadah bisnis tersebut menjadi salah satu tempat untuk menjalin networking. Sebagai penyalur hobi, karena Ita memang senang memasak dan fashion.<br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=21</link>

<category>News</category>


</item>  

<item>

<title>RI Company Signs MoUs with Four European Firms at EXPO</title>



<content:encoded><![CDATA[Warsaw, Poland - An Indonesian company whose European office is based in Budapest, PT Alita Praya Mitra, has signed memorandums of understanding (MOUs) with four new partners during the on-going Indonesian trade, investment and tourism expo here.<br /><br />The signing was carried out by the company&#39;&#39;s president director, Ita Yuliati with representatives of Kendysh Alexander of Belarus, Makser Doo of Hungary, Nick Karas and Cococha of Bulgaria.<br /><br />Among those witnessing the signing were chairman of the National Agency for Export Development Bachrul Chairi, Indonesian Ambassador to Bulgaria Immanuel Robert Inkiriwang and Indonesian Ambassador to  Hungary, Croatia, Bosnia, Herzegovina and Macedonia Mangasi Sihombing. <br /><br />Mangasi said after the function he was very proud about the signing as it was proof the expo was effective and he expected many more agreements to be reached. &quot;It is possible for Indonesian companies to open branch offices abroad,&quot; he said. PT Alita is enggaged in information technology. He further invited Indonesian companies to see every opportunity in East and Central Europe which were also challenging markets for Indonesian products. Bachrul, meanwhile, admitted it was the right time for holding such an expo here to expand the market in East and Central  Europe. (Source: Antara100508)<br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=20</link>

<category>News</category>


</item>  

<item>

<title>Empat MoU Ditandatangani Dalam Expo Indonesia di Warsawa</title>



<content:encoded><![CDATA[Warsawa (ANTARA News) - Sebanyak empat nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) ditandatangani oleh perusahaan Indonesia yang berdomisili di Budapes, PT Alita Praya Mitra, dengan empat mitra barunya dalam pameran dagang dan investasi serta promosi pariwisata Expo Indonesia di Warsawa, Polandia, Kamis (8/5).<p>Penandatanganan kerjasama PT Alita, yang begerak di bidang teknologi informasi, itu dilakukan pemimpim perusahaan Ita Yuliati dengan perusahaan Kendysh Alexander dari Belarus, Makser Doo dari Hungaria, Nick Karas dari Bulgaria, dan Cococha yang memproduksi produk organik ramah lingkungan.</p><p>Acara penandatanganan tersebut disaksikan Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), Bachrul Chairi, dan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) di Bulgaria, Immanuel Robert Inkiriwang, serta Dubes RI untuk Hungaria, Kroasia, Bosnia, Herzegovina dan Makedonia, Mangasi Sihombing.</p><p>Mangasi mengatakan, pihaknya menyambut baik dengan ditandatanganinya dokumen nota kesepahaman (MoU) oleh PT Alita, yang berbasis di Budapes.</p><p>Dengan kehadiran Alita dalam pameran dagang dan investasi serta promosi pariwisata dan mampu menjalin kontrak dengan mitranya dari negara di Eropa Timur itu, menurut dia, menjadi satu kebanggaan.</p><p>&quot;Tidak ada salahnya perusahaan Indonesia membuka cabang di luar dan melakukan kerjasama,&quot; ujarnya.</p><p>Menurut Mangasi, penandatanganan kerjasama ini merupakan salah satu hasil nyata dari penyelenggaraan pameran dagang dan investasi ini dan diharapkannya akan banyak lagi hal serupa.</p><p>Ia mengajak perusahaan Indonesia melihat setiap peluang yang ada di kawasan Eropa Timur dan Tengah yang merupakan pasar sangat menantang dan juga adanya potensi yang dimiliki oleh Negara di Eropa Timur.</p><p>Sementara itu, Bachrul Chairi mengemukakan, sangat tepat penyelenggaraan pameran dagang dan investasi, serta promosi pariwisata untuk kawasan Eropa Timur dan Tengah yang diselenggarakan di Warsawa, Polandia.</p><p>Hal ini disebabkan adanya pertumbuhan yang sangat pesat yang terjadi di Polandia yang tengah mengejar untuk bisa masuk ke dalam Uni Eropa (UE). </p><p>Dikatakannya, persyaratan yang harus dipenuhi Polandia untuk masuk dalam Uni Eropa itu mereka harus mampu menyesuaikan kebijakan yang dibutuhkan pasar dalam mendorong pertumbuhan.</p><p>Untuk itu sangat tepat bagi Indonesia menyelenggarakan expo tersebut dalam upaya mengembangkan pasar untuk wilayah Eropa Timur dan Tengah, kata Bachrul Chairi. (*)<br /></p><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=19</link>

<category>News</category>


</item>  

<item>

<title>Kibar Alita di Tangan Ita</title>



<content:encoded><![CDATA[Dari nol, wanita ini sukses mengembangkan bisnis telekomunikasi dan TI beromset ratusan miliar rupiah. Bagaimana dia melakukannya?<br /><br />Hidup sering mengajarkan untuk mencintai sesuatu yang sebenarnya kurang disukai. Sebab, bisa jadi di kemudian hari, apa yang kurang disukai justru malah digenggam erat-erat. Perumpamaan inilah yang kini mendapat pembenaran dalam diri seorang wanita sukses di bisnis telekomunikasi dan teknologi informasi: Ita Yuliati Joemhana. Ada apa gerangan?&#8232;&#8232;<br />Kalender mesti dibalik lebih dulu ke dekade 1970-an. Awalnya, Ita tidak menyukai jurusan yang diambilnya di Akademi Teknis Nasional/Atenas (kini Institut Teknologi Nasional/Itenas): Teknik Elektro. Jurusan itu dipilihnya karena di Fakultas Teknik Atenas saat itu (1979) hanya ada dua jurusan. Jurusan lain, Teknik Geodesi, sama sekali tidak membetot minatnya. Kalaupun akhirnya Teknik Elektro dipeluknya, itu lantaran alasan sederhana: tanpa tes. &#8232;&#8232;Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Setelah menekuni, Ita seperti perangko dengan amplopnya: lengket dengan ilmu-ilmu yang diambilnya. Bahkan, studi yang ditempuhnya kelak mengantarnya menjadi pengusaha sukses di bidang telekomunikasi dan TI. Ita sukses mengembangkan Alita Indonesia (Grup Alita). Dari tahun ke tahun bisnis yang ia rintis sejak 1996 itu tumbuh supercepat. Mempekerjakan 400-an orang, omset tahunan Alita pada 2006 di atas Rp 350 miliar. Tak pelak lagi, Ita adalah bintang baru di industri yang hot ini.&#8232;&#8232;Kiprah sukses Ita membangun Alita Indonesia memang menjadi oase tersendiri bagi industri telekomunikasi dan TI. Ia sukses di di bisnis telekomunikasi yang cenderung didominasi wirausaha pria. Perempuan cantik ini mulai nyemplung industri telko saat lulus kuliah, 1982. Begitu lulus sarjana muda, dia langsung diterima di PT INTI, anak usaha PT Telkom di Bandung. Di sini, ia diterjunkan di bagian transmision engineering. &quot;Saya berkembang dan belajar banyak hal di INTI karena dilibatkan dalam berbagai proyek. Saya mengenal lingkungan industri telekomunikasi secara keseluruhan juga saat di INTI,&quot; ungkapnya. &#8232;&#8232;Tentu saja, wanita kelahiran Bandung 30 Juli 1960 ini beruntung bisa bekerja di INTI yang ketika itu merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mengerjakan proyek infrastruktur telekomunikasi seperti switching, produksi telepon dan fiber optic - waktu itu masih monopoli. Di perusahaan ini pula Ita mengenal vendor telekomunikasi terkemuka asal Jepang yang kelak menjadi partnernya, NEC. Seiring dengan pengayaan wawasannya dengan dunia praktik, Ita menyelesaikan S-1 di Atenas, dengan mengambil konsentrasi bidang digital microwave. &#8232;&#8232;Tujuh tahun bekerja di INTI, pada 1989 Ita meninggalkan Bandung karena menikah dan mengikuti suaminya menetap di Jakarta. Kebetulan juga INTI tak punya cabang di Ibu Kota. Setelah mencari pekerjaan, dia mendarat di PT Nasio Indonesia. Ini salah satu perusahaan telekomunikasi swasta pertama di Indonesia -- berdiri pada 1969 - yang merupakan mitra lokal NEC. Di sini, kesulitan teknis nyaris tak ditemui karena lingkungan kerja dan bisnisnya sama dengan INTI. Dalam pekerjaannya, ia pun masih berhubungan dengan NEC, Indosat dan Telkom. &#8232;&#8232;Ita pamit undur dari Nasio pada 1996 karena pemiliknya meninggal dunia. Lebih dari itu, ia ingin punya usaha sendiri meski skala kecil. Bahkan, sebenarnya ia telah merancang pendirian usaha itu pada akhir 1995. Dengan mengibarkan entitas PT Alita Indonesia, titel wirausaha pun disandangnya. Ia memulainya dengan dua orang: satu direktur dan satu pramukantor. Direkturnya, tak lain, Ita sendiri. &#8232;&#8232;Seperti jodoh yang tak lari ke mana. Tak perlu waktu lama bagi Alita untuk menapak bisnis. Langkah pertama diayun ketika PT Indosat mendapatkan proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi (fixed line) di seluruh Kamboja dan membutuhkan mitra dari Indonesia untuk pengerjaan. Indosat sempat menawari beberapa perusahaan Indonesia (network provider) untuk bergabung, tapi tidak ada yang berminat. Ita tertantang dan merasa punya kompetensi. Maklum, meski perusahaannya masih baru, bidang itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Di proyek ini, awalnya ia hanya ditugaskan menyusun konsep dan desain. Namun lama-kelamaan, karena dinilai punya kompetensi, juga diserahi pengerjaannya hingga selesai. &#8232;&#8232;Ita sangat terkesan dengan pengalamannya di Kamboja karena saat itu suasana di negeri itu masih kacau, suasana perang. Banyak ranjau dan sering terdengar dentuman tembakan. &quot;Saya ke mana-mana dikawal dan tahunya bolak-balik kantor-hotel karena gawat. Nggak berani ke lapangan. Tapi ternyata di sana kami bisa survive juga,&quot; katanya mengenang. Proyek di Kamboja berlangsung dua tahun. &quot;Kami memberangkatkan teknisi-teknisi Indonesia ke sana. Makanya meski dalam negeri krismon, kami malah dapat dolar,&quot; ujar Ita yang melihat proyeknya di Kamboja lebih untuk memperkaya rekam jejaknya. &#8232;&#8232;Alita baru mulai menggarap domestik pada 1997 di Semarang. Di kota ini, NEC berbisnis pengembangan jaringan dengan PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, perusahaan KSO (kerja sama operasional) Telkom di Jawa Tengah. Ita memohon perusahaan Jepang itu mengalihkan pekerjaan maintenance dan trouble shooting ke Alita. Semula pihak NEC skeptis Alita bisa mengerjakannya. Namun, bukan wirausaha namanya kalau lembek. Ita mampu meyakinkan sehingga keluarlah Ocassion Support Agreement. &quot;Kami yang me-maintain semua peralatan NEC di sana. Proyeknya nggak banyak. Tapi dari situ kami makin yakin, kalau kami mau, pasti kami mampu,&quot; ujarnya tandas. &#8232;&#8232;Sedikit-sedikit menjadi bukit, akhirnya benar-benar terjadi. Tak lama setelah itu, satu demi satu tawaran proyek menghampiri. Alita mendapatkan kesempatan membangun menara base transceiver system (BTS) dari IM3 (Indosat) di Jabotabek. Tidak banyak memang, hanya lima menara. Namun, ini menjadi proyek pembelajaran karena Ita justru menderita banyak kerugian saat mengerjakannya. Di lain sisi, proyek itu menjadi momentum karena ketika belum selesai, Alita sudah ditawari Satelindo, juga untuk membangun menara, dalam jumlah lebih banyak: 25. Dan bak bola salju, setelah itu giliran Excelcomindo (XL), yang memercayainya mengerjakan proyek instalasi mini link antarmenara. Tak tanggung-tanggung, Alita bahkan bertindak sebagai main contractor yang menginstalasi semuanya. Adapun barang (perangkatnya) disuplai NEC. &quot;Kami mulai menanjak dari sini. Proyek kami makin bertambah dan makin dipercaya. Sampai tahun kemarin, proyek dari XL saja lebih dari US$ 35 juta,&quot; ungkapnya.&#8232;&#8232;Setelah itu, jalan pun terentang lapang. Reputasinya makin dikenal sebagai pemain yang patut diperhitungkan di bisnis konstruksi dan pemasok telekomunikasi. Bahkan, Alita kemudian juga masuk di bisnis TI setelah diajak berpatungan dengan anak usaha AT &amp; T, Sterling Commerce, dengan mendirikan PT Alita Process Inovasi (API). Sterling Commerce kuat dalam pengembangan aplikasi dan proses bisnis, khususnya supply chain, untuk kepentingan outsourcing. Di API, Ita memegang mayoritas saham (70%). Di sini ia bukan menjadi reseller. &quot;Platform bisnis ini jutaan dolar. Saya juga harus invest banyak. Belum lagi, saya harus melakukan edukasi ke pelanggan di Indonesia karena bisnisnya value added sehingga butuh banyak penjelasan. Makanya, saya nggak mau sekadar jadi reseller,&quot; katanya.&#8232;&#8232;Diawaki 20 karyawan inti, API berkembang pesat dan telah memiliki banyak klien. Pertamina, misalnya, memercayainya mengembangkan sistem tracking dengan teknologi Global Positioning System (GPS) untuk mobil-mobil tangki Pertamina di Sulawesi. &quot;Kami yang membuat middleware, petanya, dan sebagainya,&quot; ungkap Ita. API juga sedang membantu klien perusahaan semen di Vietnam mengembangkan aplikasi GPS untuk sebuah perusahaan taksi, dan membantu BNI dalam pengembangan sebuah proses bisnis. &#8232;&#8232;Sukses di TI benar-benar membuat Ita kian bersemangat berbisnis. Selain mendirikan API, di bisnis TI, Alita mengembangkan pula PT Nutech Integrasi (NI) - berpatungan dengan Nutech Malaysia (20%). Sementara API lebih banyak ke proses bisnis dan supply chain management, spesialiasi NI di bidang payment solution. NI mengembangkan digital smartcard, bekerja sama dengan Freedom. Salah satu proyeknya, ticketing system dan smartcard proyek bus Trans-Jakarta di Jakarta (koridor II dan III) - termasuk pemeliharaannya. &quot;Jadi, di bisnis TI kami sudah punya dua kaki (API dan NI). Ini bisnis masa depan,&quot; katanya menerangkan. &#8232;&#8232;Sebenarnya, penetrasi ke bisnis TI merupakan bagian dari strategi Ita untuk tidak menaruh telur di satu keranjang. Apalagi, menurutnya, bisnis infrastruktur telekomunikasi juga bisa mengalami saturasi. Contohnya, penetrasi infrastruktur untuk 3G yang katanya akan boom ternyata tak membutuhkan tambahan infrastuktur dari yang sudah dimiliki operator GSM. &quot;Saya pikir ke depan adalah era aplikasi dan konten. Untung sekali datang mitra asing seperti Freedom dan Sterling yang mencari kami,&quot; ujarnya mengenang. Hanya saja, di bisnis TI pihaknya tak ingin masuk sebagai pengembang software pada umumnya seperti Balicamp, tapi memilih berinvestasi mengembangkan software untuk kepentingan alih daya. Masih di bisnis TI, dia juga sedang menjajaki peluang bisnis content provider dan tengah berdiskusi dengan salah satu mitranya dari Jepang. Apa itu wujudnya, ia belum mau menceritakannya.&#8232;&#8232;Yang jelas, antusiame menggarap bisnis TI tak mengendurkan cengkeraman Alita di bisnis telekomunikasi. Ternyata, sejak 1999 Ita membeli 50% saham PT Nasio Karya Pratama, perusahaan tempatnya pernah bekerja. Rupanya, perusahaan itu mengalami stagnasi dan istri pendiri memintanya kembali, dengan status sebagai pemilik. &quot;Akhirnya, saya beli 50% sahamnya dan saya mulai bangun kembali dari nol,&quot; ujarnya seraya menjelaskan, sejak 2005 Alita Indonesia dijadikan holding.&#8232;&#8232;Melihat kiprahnya, tak bisa dipungkiri, Alita Indonesia, holding company yang dikibarkan Alita, kini berkembang amat pesat. Setidaknya, punya lima anak usaha: PT Nasio Karya Pratama, PT Buana Selaras Globalindo dan PT Alita Nasio Kaliyanamitra (pembangun BTS), ketiganya terkait dengan bisnis telekomunikasi; serta API dan NI, yang membidangi TI. Bukan cuma itu, dari seorang pramuwisma, tak dinyana Ita menjadi wirauaha yang mempekerjakan 400-an orang dengan omset US$ 37 juta pada 2006, dan tahun 2007/08 ditargetkan Rp 750 miliar. &quot;Saya sendiri nggak menduga akan secepat ini. Saya juga ketar-ketir dan berusaha meredam pertumbuhan agar bisa terkendali,&quot; ujar Ita yang menghibahkan 5% saham holding ke karyawan (koperasi).&#8232;&#8232;Tentang rahasia di balik pertumbuhan bisnisnya, Ita mengatakan, semua itu tak lepas dari visi yang menjadi mimpinya dari awal bahwa dirinya ingin Alita menjadi pemain internasional. Ia berusaha konsisten dengan mimpinya itu. &quot;Saya baru mengambil dividen tiga tahun terakhir. Dulu kalau untung, tidak saya ambil, namun saya invest lagi untuk pertumbuhan,&quot; ujarnya. Tak hanya itu, dari awal pihaknya berusaha menciptakan sesuatu yang punya differentiation point. &quot;Makanya, kami mengupayakan meraih ISO dari KEMA. Kami termasuk perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang pertama mendapatkannya,&quot; ujarnya lagi. Kualitas memang jadi perhatian utamanya. Jangan heran, dalam proses rekrutmen SDM, ia berusaha menggunakan standar profesionalisme ketat dan juga menggundang konsultan tersendiri. &#8232;&#8232;Kiat lain, Ita berusaha tak bosan menggali ilmu-lmu baru serta terus mengembangkan jaringan. &quot;Di bisnis jasa, networking sangat penting. Tentu ini bukan networking dalam arti KKN (korupsi-kolusi-nepotisme),&quot; ia mengemukakan prinsipnya. Selain itu, juga harus membangun citra baik di mata pelanggan, khususnya buat dirinya sebagai pemimpin perusahaan. &quot;Sekali image rusak, akan susah menambalnya. Kepercayaan itu juga tumbuh dari image,&quot; Ita sekali lagi menjelaskan prinsipnya. Alita sendiri termasuk perusahaan yang aktif berpameran di luar negeri. Tahun 2006, perusahaan ini jadi salah satu dari segelintir pemain Indonesia yang berani berpameran di ajang Communic Asia di Singapura. &#8232;&#8232;Koesmarihati, tokoh bisnis telekomunikasi yang juga anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, melihat Ita sebagai wirausaha nasional bidang TI dan telekomunikasi yang bisa dibanggakan. &quot;Saya mengikuti sepak terjangnya sejak merintis pekerjaan telekomunikasi di Kamboja, dengan Telkom dan Indosat. Di Indonesia, saat ini entrepreneur wanita biasanya putri seorang entrepreneur. Namun, Ita sukses karena usahanya yang gigih,&quot; ungkap Koes yang pernah menjabat sebagai direksi PT Telkom. Koes sering bertemu Ita di banyak ajang, seperti kongres besar telekomunikasi di Singapura, Jenewa, dan Hong Kong. Ia melihat bisnis Alita Indonesia kini bertaraf internasional. Menurutnya, Ita adalah wirausaha yang profesional dan tidak manja. &quot;Dia mempergunakan female touch untuk keluwesannya bergaul dan memimpin perusahaan,&quot; ungkap Koes yang berharap operator telekomunikasi di Indonesia, termasuk Alita, bisa menjadi pemain global. Kalau diperlukan, menurutnya, pemerintah mestinya memfasilitasi.&#8232;&#8232;Sejauh ini, Ita telah mencoba masuk di pasar mancanegara, di antaranya mendirikan Alita Europe untuk menggarap bisnis telekomunikasi di Eropa Timur. &quot;Saya pilih Hungaria karena Eropa Timur masih bersabahat dengan kita. Negara-negara sekitarnya belum berkembang sehingga ada hal yang bisa kita lakukan,&quot; tutur wanita yang di Hungaria bermitra dengan perusahaan telekomunikasi setempat, Linecom. Yang pasti, meski ekspansif, Ita tetap ingin fokus di bisnis telekomunikasi dan TI. Karena itulah, ia tak berminat ketika diajak terjun ke bisnis lain oleh kenalannya, termasuk pertambangan dan biofuel yang tengah hangat. Di luar telekomunikasi dan TI, Ita hanya berbisnis restoran Bali Caf&eacute; (di Phnom Penh, Kamboja), Rumah Sutera (Dharmawangsa Square, Jakarta) dan perusahaan promosi produk wisata di Hungaria. Namun itu semua karena hobi pribadi, bukan Alita. Hanya bisnis percetakan digital (PT Sumber Sinar Mentari) yang dikonsolidasinya ke Alita Indonesia karena sarat teknologi dan di Indonesia hanya ada lima perusahaan sejenis -- membuat emblem mobil dan motor. Kelak, Sumber Sinar Mentari akan dikembangkan memproduksi smartcard.&#8232;&#8232;Dengan keberhasilan yang diraihnya itu, Ita pantas bangga. Bisnis yang dibangunnya dari nol kini sudah membesar dan semua anak usaha dipercaya bank. Namun, ia tak ingin pertumbuhan bisnisnya hanya sampai di sini. Itulah sebabnya, ia kini menyiapkan perusahaan patungan yang memproduksi antena dari Hungaria. &quot;Ini bagian dari pengembangan local content. Apalagi, tiap tahun saya paling tidak menyuplai 2.000 link (antena) ke XL yang semua kami pasok dari impor (AS),&quot; ungkap Ita yang mengharapkan perusahaannya juga memproduksi peranti keras untuk jaringan WIMAX maupun CDMA. &#8232;&#8232;Lewat rencana-rencana yang direntangkannya itu, Ita bahkan berani menargetkan omset sebesar Rp 1 triliun pada 2009. Untuk menampung pertumbuhan organisasinya, ia kini membangun office tower (Alita Tower) dengan konsep smart building di Jln. T.B. Simatupang, Jakarta, yang akan dijadikan kantor pusat kelompok usahanya. &#8232;&#8232;Mungkinkah bisnisnya membesar karena secara umum industri telekomunikasi memang sedang boom? &quot;Saya yakin, meski pasar boom, bila kami nggak punya kompetensi, maka kami nggak akan mendapat kue pasar,&quot; jawabnya serius. Yang pasti, melihat semua ini, ia merasa menerima blessing bahwa dulu dirinya mengambil kuliah teknik elektro, sehingga bisa bekerja di INTI serta kenal dengan teknologi telekomunikasi dan microwave. Kalau tidak, belum tentu ia menjadi wirausaha sukses seperti sekarang. Ya, kadang kita memang harus belajar mencintai sesuatu yang awalnya kurang kita sukai. ***&#8232;<br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=18</link>

<category>News</category>


</item>  

<item>

<title>Alita Kini Ingin Tampil Kedepan</title>



<content:encoded><![CDATA[PT. Alita Praya Mitra berdiri pada tahun 1995 sebagai sebuah perusahaan Penyedia jasa solusi total dalam bidang teknologi Informatika dan Komunikasi. <br /><br />Alita mulai membesar manakala di tahun 1996, ia beroleh kontrak membangun infrastruktur telekomunikasi di Kamboja bersama sama PT. Indosat. Setelah itu, Alita terus berkembang karena mendapatkan kepercayaan dari berbagai perusahaan di Indonesia, seperti yang dikatakan Direktur Utara PT. Alita Praya Mitra, Ita Yuliati : &#8232;&#8232;Di Indonesia, klien kami kebanyakan adalah pelaku industri telekomunikasi seperti operator telepon Telkomsel, Esia, Mobile 8, Indosat dimana kami membangun jaringan kabel optik, membangun menara BTS dan infrastruktur infrastruktur lainnya. Sementara di bidang IT, kami menyediakan infrastruktur smardcard solution, seperti sistem ticket untuk Busway di Jakarta dengan bekerjasama dengan mitra usaha kami di Malaysia. Selain itu, kami menyediakan hosting dan software solution untuk business process yang mampu mengintegrasikan tiga sistem berbeda yakni SAP, IBM dan Oracle. Software solution ini biasanya dipesan oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang supply chain, cash management dan tracking kendaraan, seperti yang telah kami lakukan untuk Pertamina yang ingin memantau pergerakan truk pengangkut minyak di Sulawesi dengan memakan teknologi GPS . &#8232;&#8232;Karena bisnisnya yang semakin berkembang, pada tahun 2006, Alita memperoleh pendapatan 40 juta dollar. Dan ditahun 2007, Alita mentargetkan beroleh pendapatan i 60 sampai 70 juta dollar Amerika karena peluang mengembangkan pasar di Indonesia masih sangat terbuka. Dan ditahun 2010, Alita berencana akan melakukan IPO sebagai bagian dari langkahnya untuk listing di bursa saham Jakarta. Berkaitan dengan itu, Alita merasa sudah saatnya tampil kehadapan dan dikenal banyak orang setelah bertahun tahun tumbuh mantap tanpa gembar gembor. Dalam usahanya memperkenalkan diri dan memperluas jaringan, Alita Praya Mitra membuka gerai di pameran Broadcast dan CommunicAsia di Singapura bulan Juni lalu. Dan direktur utamanya, Ita Yuliati mengatakan selama pameran Alita beroleh mitra potensial. &#8232;&#8232;Buat Alita ini adalah pameran yang pertama di luar negeri. Saya selalu hadir dalam pameran Broadcast dan CommunicAsia setiap tahun. Dan tahun ini, saya rasa sudah waktunya Alitas untuk berpameran di luar negeri, tidak hanya di Singapura melainkan juga di Vietnam dan beberapa negara lainnya. Selama pameran di Singapura, kami mendapatkan respond yang baik. Kami selama ini tumbuh diam diam alias tidak gembar gembor. Bahkan di Indonesia sendiri, Alita lebih dikenal sebagai kontraktor pemasang kabel dan menara BTS. Karena baru memperkenalkan diri, Alita tidak mematok nilai kontrak yang harus diraih selama pameran di Singapura karena penekan kami berpameran di Singapura adalah membangun hubungan dan mencari mitra bisnis mancanegara. &#8232;&#8232;Kami mendapat tamu dari Myanmar dan tertarik dengan produk serta jasa layanan kami. Jika memang berlanjut, kami mungkin akan membangun berbagai sarana dan prasarana baik di bidang IT maupun telekomunikasi. Bahkan Tamu dari Myanmar itu tertarik untuk menggandeng Alita memproduksi alat alat yang berkaitan dengan pembangunan menara. Kami akan mengajak pihak pihak lain di Indonesia untuk melaksanakan proyek di Myanmar itu. Selain dari Myanmar, selama pameran BroadcastAsia dan Communicasia di Singapura, kami juga sempat berbicara dengan investor India yang berminat menjalin kerjasama dalam usaha perakitan antena. &#8232;&#8232;Demikian penjelasan direktur utama PT. Alita Praya Mitra, Ita Yuliati mengenai potensi pengembangan usahanya di bidang bisnis teknologi informatika dan telekomunikasi. Respon pengunjung yang didapatkan induk dari enam perusahaan ini selama berpameran di Singapura, tentunya akan membuat Alita semakin percaya diri untuk tidak hanya menjadi pemain tangguh pasar domestik melainkan juga memenangkan kompetisi digelanggang internasional. ( Budi Setiawan. bsetiawa@mediacorp.com.sg ) <br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=17</link>

<category>News</category>


</item>  

<item>

<title>Contact us</title>



<content:encoded><![CDATA[Contact Us :<br /><br />PT. ALITA PRAYA MITRA<br />Gedung ALITA  Jln. TB. Simatupang Kav. 12 Jakarta 12310 Indonesia<br />P 62 21 766 1932. F 62 21 766 1933. <br />www.alita-indonesia.com<br />email :sales@alita-indonesia.com<br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=16</link>

<category>Contact Us</category>


</item>  

<item>

<title>ALITA Group Presentation</title>



<content:encoded><![CDATA[<p>DOWNLOAD PDF :</p><a href="../download/alitacambodia.pdf" target="_blank">ALITA CAMBODIA</a><br /><a href="../download/alitaeurope.pdf">ALITA EUROPE</a><br /><a href="../download/ank.pdf">PT. ALITA NASIO KALYANAMITRA</a><br /><a href="../download/api.pdf">PT. ALITA PROCESS INOVASI</a><br /><a href="../download/bsg.pdf">PT. BUANA SELARAS GLOBALINDO</a><br /><a href="../download/hopetech.pdf">HOPETECH INDONESIA</a><br /><a href="../download/nkp.pdf">PT. NASIO KARYA PRATAMA</a><br /><a href="../download/nutech.pdf">PT. NUTECH INTEGRASI</a><br /><a href="../download/ssm.pdf">PT. SUMBER SINAR MENTARI</a>]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=15</link>

<category>ALITA Group Presentation</category>


</item>  

<item>

<title>ALITA Management</title>



<content:encoded><![CDATA[<p>The rapid and dynamic business environment demands the highest standard quality of the most successive combination of innovation and excellent capability of value-base management.</p><p><br />Achieving this standard and in accordance with the vision and mission, Alita is commited to maintain the foremost synergetic conduction of each task assigned to Alita. It recognises the importance of having in place a well-defined professional management processes to enhance company&iacute;s performance and accountability. In doing so, Alita&#39;s board and management has been building and maintaining its focused management and encouraging work environment. Alita dedicates each personal skill and competency to bring forth the best performance of work and create a great long term relationship will all satisfied costumers.</p><p><br />Thus, the integration of dedication and capability of management and employees based on working environment that leads Alita toward the most prominent achievements.</p><p>&nbsp;</p><p><img src="update/upload/img/bu-ita.gif" border="0" alt=" " width="312" /><br /></p><p><strong><br /></strong></p><p><strong>ITA YULIATI</strong></p><p><br />In leading the Board of Directors of Alita Management, Mrs. Yuliati has the most in-depth knowledge of Alita&#39;s business area and development througout the years. Since the early rise of Alita, she began to recognized and acted on any existing oppurtunities which opened to a numerous business development for Alita.</p><p><br />In achieving such recognition, she previously attained an outstanding performance of work by began working at PT. INTI in the Transmission Engineering Division. As an Institut Teknologi Nasional graduate, she applied all of her knowledge in telecommunication during her first work experience and made a great deal contribution to the company. Through her dedication and work, she had also began to have a great business relation with one of the major telecommunication company in Indonesia. Consequently, she took such great involvement and further her line of work experience by joining with PT. Nasio Sdn. Electric Co. as the Vice President. Since then she has built an even more stronger cooperation with another worldwide major Information Technology and Network company which based in Indonesia.</p><p><br />With such outstanding business experience and the strength of such cooperationship, Mrs. Yuliati established PT. Alita Praya Mitra which contribute in the field of information telecommunication industry. With her strong vision &amp; longterm network relationship, Alita has become prominent as a global player in its field and will continuosly grow in the coming future.</p><p>&nbsp;</p><p><img src="update/upload/img/pak-manto.gif" border="0" alt=" " width="312" /></p><p><strong><br /></strong></p><p><strong>RUKMANTO SARAGIH</strong></p><p><br />Mr. Saragih, of whom acts as Finance Director, was graduated from Institut Pertanian Bogor (IPB) in 1983. He has a wide experience in banking business for more than 20 years. He firstly stepped on the banking field by acting as Account Officer of Bank Bukopin in 1985 for five years. Mr. Saragih was then promoted to lead the branch office of Bank Bukopin in Medan, Sumatra Utara. Such professional experiences led him to occupy the position of Senior Vice President at Bank Nusa Nasional. Apart from his expertise at the banking field, Mr. Saragih had also shown successive record of financial analyst by serving PT Meredien Capital Indonesia. The prolong years of professional experiences combined with the analytical skills achieved from his active role in participating on several trainings and informal courses organized by Asian Management Institute, LPPM-UI, and Institute of Indonesian Bankers (IBI).</p><p><br />Given the opportunity to perform strong analysis skill that supports his daily responsibilities in finance area, such achievement led Mr. Saragih to fill the Board of Directors post of PT Alita Praya Mitra since 2003 until the present of time.<br /></p><br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=14</link>

<category>ALITA Management</category>


</item>  

<item>

<title>ALITA In The Future</title>



<content:encoded><![CDATA[<strong>Strategic Planning</strong><br /><br />Alita seeks to cope up with business demands and offers solutions by adapting the latest trends and technology. The company realizes that it has been a remarkable journey to become a prominent player in the ICT business industry. Externally the company will gradually brings up new products and services for the market. While internally the company is maintaining a good  teamwork and successfully build a strong foundation that leads to excellence. We offers quality services with a great value.  ]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=13</link>

<category>ALITA In The Future</category>


</item>  

<item>

<title>Where You Find ALITA</title>



<content:encoded><![CDATA[<strong>As a global company</strong><br />&#8232;The company&#39;s reputation has made a well achievement, and apart from being well recognized, the company attracts major business players from all around the world to have mutual cooperation as well as partnership. Alita has teamed up in strategic alliances with leading international ICT companies to stay on the cutting edge in order to extend the know-how.<br /><br />ALITA has been a prominent player in Asia country and Eastern Europe which the company is locally based in Jakarta Indonesia.<br /><br />The Group has extended by establishing Alita Europe (Budapest) and Alita Cambodia. This establishment of the Alita (International) shall be sufficient to meet a vast variety of business opportunities in this rapidly changing global market.<br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=12</link>

<category>Where You Find ALITA</category>


</item>  

<item>

<title>ALITA Being Responsible</title>



<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Trustable partner &amp; Capitalizing group&#39;s value</strong></p><p><br />This extended and wide experience of the management team brings a unique value to the organization. Alita provides the quality services by using the high standard skills of its engineers and developers in nationally and internationally. Alita seeks and hires the most talented professionals and industry experts, then continuously invest in them to keep on the forefront of technology and business innovations. Alita&#39;s core strength lies in how it combines technical and business expertise with industry knowledge to create the solution that is right for its clients.</p>]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=11</link>

<category>ALITA Being Responsible</category>


</item>  

<item>

<title>Services</title>



<content:encoded><![CDATA[In order to support our client&#39;s business, we supply the network equipment and services for ICT industry. Our IT/Network Solutions provides solutions for the ubiquitous networking era for government agencies, telecommunications service providers, and other private-sector enterprises. With world-class technologies in both IT and networking, we give maximum solutions. Furthermore, our exposure in leading-edge technologies in areas of convergence between IT and networking will provide our clients with the latest technology enhancement.<br /><br /><p><strong>INFOCOMM NETWORK SOLUTION</strong></p><p>With the groups success in delivering an integrated total solution for wide range of clients, including the Indonesian government, Alita is expanding its resources to fulfill the client&#39;s needs. The company has been a partner for the government to develop infrastructure in Indonesia. Alita has outstanding resume in construction business, especially for building, public infrastructure, and telecommunication supporting facilities.<br />&nbsp;<br />We also support the telecommunication infrastructure development, by providing wireline and wireless telecommunication infrastructure products, equipment supply, engineering and system integration. Moreover, in the telecommunication trading industry, we provide cable accessories, wireless &amp; CPE&#39;s equipment, and also microwave antennae. Our &lsquo;engineered solution&#39; is applied to identify and support cost effective products and solutions for our clients.&nbsp;&nbsp;</p><p>&nbsp;</p><p>&#8232;Our team is working very closely to provide total solution for Business Process Outsourced Model. Our highly competent and motivated team is here for you to provide quality, scalable and affordable software solutions for your business. Customized to fit your business and its requirements.<br />&nbsp;<br />Our group&#39;s partnership with international companies in the last few years, along with technology advancement has given us the expertise to provide Smart Card Solution and Access Control. We are extensively working on several government projects for public transportation, as well as in several campuses in Indonesia.&nbsp;&nbsp; </p><p>In the Sticker printing industry, Alita produces decorative body striping, graphic motorcycle helmet, and car full branding, producing castic emblem, logo, souvenir, merchandise, reflective traffic and informative signage.</p><p>&nbsp;</p><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=10</link>

<category>ALITA Services</category>


</item>  

<item>

<title>Track Records</title>



<content:encoded><![CDATA[<a href="../download/trackrecords.pdf" target="_blank">ALITA GROUP TRACK RECORDS</a> (Click to download PDF)]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=9</link>

<category>ALITA Track Records</category>


</item>  

<item>

<title>Clients</title>



<content:encoded><![CDATA[<strong>Bakrie School of Management</strong><br />Bakrie School of Management (BSM) is managed by Yayasan Pendidikan Bakrie (YPB), a foundation that was established by the Bakrie family in order to provide an international quality level business school.<br /><a href="http://www.bakrie.ac.id">www.bakrie.ac.id</a><br /><br /><strong>PT. Bakrie Telecom</strong><br />Esia is a brand of PT. Bakrie Telecom Tbk, a telecommunication operator with CDMA 2000 1x technology base with limited mobility. With esia, calls can be made, starting locally and internationally.<br /><a href="http://www.esia.co.id">www.esia.co.id</a><br /><br /><strong>Bank DKI</strong><br />As a state governed bank based in Jakarta, Bank DKI has big opportunities to fund several infrastructure development projects that support transportation facilities in Jakarta and its surrounding areas. Lately, the development of numerous public facility projects with international standard has been the focus of local government, as the answer to the vast growth of metropolitan city such as Jakarta in the 21st century.<br /><a href="http://www.bankdki.co.id">www.bankdki.co.id</a><br /><br /><strong>BLU TransJakarta</strong><br />TransJakarta is a bus rapid transit system in Jakarta, Indonesia. TransJakarta started on&nbsp; January 15, 2004 and currently has 7 corridors (or lines) with 32 new corridors under construction. TransJakarta was designed to provide the citizens of Jakarta a fast public transportation system to help reduce rush hour traffic. The Indonesian Government provided TransJakarta buses with their own private lanes and Transjakarta&rsquo;s ticket prices are subsidized by the state government.<br /><a href="http://www.transjakartabusway.com">www.transjakartabusway.com</a><br /><br /><strong>BNI (PT Bank Negara Indonesia)</strong><br />Initially referred to by its unabbreviated name of Bank Negara Indonesia when it was established in 1946, BNI is the first bank formed and owned by the Indonesian Government. BNI&rsquo;s legal status was upgraded in 1992 to that of a stateowned limited corporation under the name of PT Bank Negara Indonesia (Persero) and the bank decided to become a public company through its initial public offering of its shares in 1996. BNI offers a wide range of Loan, Savings, or even Treasury products and services, that provides maximum benefits to suit your banking or corporate needs. BNI strives to provide the best services for the country and to ultimately become the Pride of the Nation, today and always.<br /><a href="http://www.bni.co.id">www.bni.co.id</a><br /><br /><strong>Departemen Luar Negeri</strong><br />Department of foreign affairs is a department of Indonesia government that responsible for managing the country&rsquo;s foreign affairs.<br /><a href="http://www.deplu.go.id">www.deplu.go.id</a><br /><strong><br />The Dovechem Group</strong><br />DOVECHEM is a Group of chemicals distribution and related services companies. With 48 years of establishment, Dovechem is a &ldquo;One Stop Chemical Solution Center&rdquo;. Operating 16 locations with 1,110 employees in 8 countries, Dovechem manages four main divisions in chemical distributions, manufacturing, storage terminals and transportations.<br /><a href="http://www.dovechem.com">www.dovechem.com</a><br /><br /><strong>Ericsson Thailand</strong><br />Ericsson is a world-leading provider of telecommunications equipment and related services to mobile and fixed network operators globally. Over 1,000 networks in more than 175 countries utilize our network equipment and 40 percent of all mobile calls are made through our systems. We are one of the few companies worldwide that can offer end-to-end solutions for all major mobile communication standards.<br /><a href="http://www.ericsson.com">www.ericsson.com</a><br /><br /><strong>PT. Excelcomindo Pratama, Tbk (XL)</strong><br />PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) is an Indonesian based telecommunications company. The Company provides wireless telecommunications services, leased lines and corporate services, which include Internet Service Provider (ISP) and Voice over Internet Protocol (VoIP) services. In addition, XL provides voice, data and other value-added cellular telecommunications services. Its product lines including Jempol, Bebas and Xplor.<br /><a href="http://www.xl.co.id">www.xl.co.id</a><br /><strong><br />Huawei</strong><br />Huawei has been a leading end-to-end IP network and service solution provider with complete self-proprietary intellectual property rights. Huawei is also providing many kinds of products for enterprises and industries. <br /><a href="http://www.huawei.com">www.huawei.com</a><br /><br /><strong>Pemda DKI Jakarta</strong><br />The local government of province of DKI Jakarta (Pemda DKI Jakarta) is one of Alita&rsquo;s clients since 2005. The first project was related with the entrance and ticketing system for TransJakarta, an anti traffic mass public transportation in Jakarta&rsquo;s main business street. <br /><a href="http://www.jakarta.go.id">www.jakarta.go.id</a><br /><strong><br />Indonesian Tower (PT. Solusindo Kreasi Pratama)</strong><br />Indonesian Tower is the biggest tower lending company in Indonesia, working closely with wireless telecommunication and data operator. Along with the expanding of telecommunication industry which marked by the development of tower infrastructure, Indonesian Tower is well known as a strategic partner for wireless telecommunication and data operator especially in maintaining the tower performance and condition. Indonesian tower has managed to print excellent track record, where it has succeeded to build towers in different kinds of location with different geographical handicap. Indonesian Tower is the right partner for telecommunication operator in need of effective and efficient outsourcing solution.<br /><a href="http://www.indonesiantower.indonetwork.co.id" target="_blank">www.indonesiantower.indonetwork.co.id</a><br /><br /><strong>PT Indosat, Tbk</strong><br />At the end of 2002, the Government of Indonesia undertook a 41.94% divestment of its shares in Indosat to Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. Through the holding company of Indonesia Communications Limited. With this divestment, Indosat is once again a foreign investment company, offering full fledged, integrated network and services in information and communication solutions. Indosat is well-positioned to be the telecommunication service provider with the comprehensive range of products offering in Indonesia.<br /><a href="http://www.indosat.com" target="_blank">www.indosat.com</a><br /><br /><strong>IM2</strong><br />INDOSATM2 is the Internet, Multimedia and other IP based Services Provider. Those kind of services such as: High Speed / Dedicated Internet, Dial up Internet, TV Cable, VPN (Virtual Private Network), Hosting and Collocation, VoIP ( Voice over Internet Protocol), B2B and B2C E-Commerce.<br /><a href="http://www.indosat.com">www.indosatm2.com</a><br /><br /><strong>PT. Jalan Tol Seksi Empat Makassar</strong><br />PT.Jalan Tol Seksi Empat Makassar is part of PT.Nusantara Infrastructure Tbk, business group through a merger with PT.Nusantara Kontruksi Indonesia on September 14, 2006 Local Government of South Sulawesi develops Makassar and its surroundings are through integrated Economic Development Area MAMMINASATA. It is primarily due to the rapid growth of Soekarno-Hatta cargo harbor and the expansion of Makassar Industrial Areas (KIMA). Jl.Ir.Sutami and Tallo Bridge can not accommodate the development and traffic volume on the ring road. Based on such conditions, Makassar Toll Road Section IV is built to support economic development and connect the intersection.<br /><a href="http://www.nusantarainfrastructure.com">www.nusantarainfrastructure.com</a><br /><br /><strong>PT Mobile-8 Telecom (Mobile-8)</strong><br />Mobile-8 is a new telecommunication company that is authorized to be a mobile cellular network operator. Mobile-8 uses CDMA 2000 1x and EV-DO technology in the spectrum 800 MHz frequency. With its product Fren, Mobile-8 adds more value to the data and multimedia services available.<br /><a href="http://www.mobile-8.com">www.mobile-8.com</a><br /><br /><strong>PT. Smart Telecom</strong><br />PT. Smart Telecom is the part of the union of the Sinar Mas Group (SMG) of which serves its clients as telecommunication operator thorugh the application of CDMA2000 1X EV-DO. The application of CDMA 2000 1X EV-DO serves the stability of data transfer and voice data with the minimun service fee compared with other. This service has now been available for public use in the country.<br /><a href="http://www.smart-telecom.co.id">www.smart-telecom.co.id</a><br /><strong><br />PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk</strong><br />PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., hereinafter referred to as TELKOM or the Company, is the largest Infocom company with full service and network provider in Indonesia. TELKOM and its affiliated companies provide fixed wire line, fixed wireless, mobile service, data &amp; internet and other multimedia services, and network &amp; interconnection. TELKOM has listed its shares on a number of stock markets, including the Jakarta Stock Exchange (JSX), the Surabaya Stock Exchange (SSX), the New York Stock Exchange , the London Stock Exchange and the Tokyo Stock Exchange (Public Offering Without Listing POWL).<br /><a href="http://www.telkom.co.id">www.telkom.co.id</a><br /><br /><strong>PT. Telekomunikasi Selular</strong><br />Telkomsel is the leading operator of cellular telecommunications services in Indonesia by market share. In November 1997, Telkomsel became the first cellular telecommunications operator in Asia to introduce rechargeable GSM pre-paid services. Telkomsel has the largest network coverage of any of the cellular operators in Indonesia, providing network coverage to over 90% of Indonesia&rsquo;s population and is the only operator in Indonesia that covers all of the country&rsquo;s provinces and counties, and all sub-counties in Sumatra, Java, and Bali/Nusra. The company offers GSM Dual Band (900 &amp; 1800), GPRS, Wi- Fi, EDGE, and 3G Technology.<br /><a href="http://www.telkomsel.com">www.telkomsel.com</a><br /><br />&#8232;<strong>PT. Televisi Transformasi Indonesia</strong><br />PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANSTV) is a company owned by TRANS CORPORATION, which also the owner of TRANSI7. TRANSTV starts broadcasting officially since 15 December 2001, by obtaining broadcast permit on October 1998 after passing expediency examination with government inter department team.<br /><a href="http://www.transtv.co.id">www.transtv.co.id</a><br /><br /><strong>ZTE</strong><br />As one of the first Chinese telecoms equipment provider to pursue business in overseas markets, ZTE now has about 50,000 employees and 8,000 of them are working in about 100 representative offices around the world. As a leading global provider of telecommunications equipment and network solutions, ZTE plays an important role in the international telecoms community. The company is an active member of more than 50 international standardization organizations and forums.<br /><a href="http://www.zte.com.cn">www.zte.com.cn</a><br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=8</link>

<category>Clients</category>


</item>  

<item>

<title>Partners</title>



<content:encoded><![CDATA[<strong><br />Alcatel Indonesia</strong><br />Alcatel-Lucent&rsquo;s vision is to enrich people&rsquo;s lives by transforming the way the world communicates. Born with an unparalleled ability to offer end-to-end communications solutions to our customers, we are focused on enhancing client relationships and enriching the lives of people through communications. Expert, driven, intuitive, innovative, Alcatel-Lucent is the first truly global communications solutions provider, with the most complete end-to-end portfolio of solutions and services in the industry.<br /><a href="http://www.alcatel-lucent.com">www.alcatel-lucent.com</a><br /><strong><br />PT. Aplikasi Nusantara Lintasarta</strong><br />Established 4 April 2988, PT Aplikasi Nusantara Lintasarta is a data communication service provider, internet and value added solution for various industry segments, including agency, media and communication, finance, manufacture, Human resource, service, trading distribution, and als transportation. Our proven track record enable us to work with partners and clients from small medium enterprises to big companies.<br /><a href="http://www.lintasarta.net">www.lintasarta.net</a><br /><br /><strong>The Astrata Group</strong><br />The Astrata Group designs and develops advanced location-based IT services and solutions (telematics) that combine GPS positioning, wireless communication (satellite or terrestrial) and geographical information technology. These solutions enable businesses<br />and institutions to monitor, trace and control the movement and status of machinery, vehicles, personnel or other assets. Astrata has designed, developed, manufactured and currently supports ten generations of telematics systems with thousands of units deployed worldwide.<br /><a href="http://www.astratagroup.com">www.astratagroup.com</a><br /><br /><strong>Bosowa Corporation</strong><br />Bosowa Corporation is an East Indonesia based Company and has been in existence for<br />35 years. The idea to the establishment of the Company was the wish of HM Aksa Mahmud of owning a motorcycle, which at that time only a few could own one. He set up a general trading company in the hope to gain sufficient funds to fulfill his simple wish. As a man with pleasant characteristics and good business network in South Sulawesi, he was offered dealership for a Japanese car brand for East Indonesia region and which was the major breakthrough to his dreams.<br /><a href="http://www.bosowa.co.id">www.bosowa.co.id</a><br /><br /><strong>PT. Bukaka Teknik Utama</strong><br />Commencing in 1978, from a small scale operation with only twelve employees and a single product line, this company has grown into a multi-million dollar company with thousand of employees. Pioneer in the line of its genuine businesses, PT Bukaka Teknik Utama&rsquo;s main activities cover the engineering and manufacturing of infra-structure related products and services.<br /><a href="http://www.bukaka.com">www.bukaka.com</a><br /><br /><strong>Bukit Jaya</strong><br />Bukit Jaya and their group companies have strongly involved in nation development of infrastructures, including telecommunication, electricity, transportation, industrial, and energy-related infrastructure. Throughout their 32 years venture, Bukit Jaya have put the highest value on partnership management with their clients, suppliers, and partners in succeeding every business.<br /><a href="http://www.bukitjaya.com">www.bukitjaya.com</a><br /><br /><strong>PT. Excelcomindo Pratama, Tbk (XL)</strong><br />PT. Excelcomindo Pratama Tbk (XL) is and Indonesian based telecommunications company. The Company provides wireless telecommunications services, leased lines and corporate services, which include Internet Service Provider (ISP) and Voice over Internet<br />Protocol (VoIP) services. In addition, XL provides voice, data and other value-added cellular telecommunications services. Its product lines including Jempol, Bebas and Xplor.<br /><a href="http://www.xl.co.id">www.xl.co.id</a><br /><br /><strong>Fifth Media Sdn. Bhd.</strong><br />Fifth Media Sdn. Bhd. is a Malaysian company that markets industrial computing devices for business applications. Fifth Media acts as the marketing arm for its associated company, ENT Quest Sdn. Bhd. ENT Quest is a Malaysian R&amp;D company with MSC-status, specialising developing wireless computing devices. Together, the Group operates a global business with product presence in Asia, Mideast and Europe, and leverages on intermediaries to reach the rest of world.<br /><a href="http://www.fifthmedia.biz">www.fifthmedia.biz</a><br /><strong><br />High Gain Antenna</strong><br />High Gain Antenna is a Korean company that markets industrial computing devices for business applications. HighGain Global communications, the leading Supplier, system integration and installation of Satellite EQPT(HPA, LNA, Up/Down, Converter, ACU, Baseband MUX etc), wireless and broadcasting system for TV and FM. HighGain Group<br />technology global&rsquo;s industry leading business, HighGain Antenna, HighGain Telecomm and<br />KukDong, offer an high technology communication products and solutions.<br /><a href="http://www.highgain.co.kr">www.highgain.co.kr</a><br /><br /><strong>Hopetech Sdn. Bhd.</strong><br />Incorporated in 1997, Hopetech is a Malaysiabased company specializing in system<br />integration and providing IT solutions and services. The company positioned itself to nurture local companies capable of harnessing Information Technology and knowledge-based systems. Hopetech holds vast experience in the development and implementation of contact less smartcard system for the highway operation in Malaysia.<br /><a href="http://www.hopetech.com">www.hopetech.com/my</a><br /><br /><strong>KAEL Technology Sdn. Bhd.</strong><br />KAEL Technology Sdn. Bhd. has a market focus of allowing sensible information to be presented at the right level of audience and right group of viewers. KAEL is pure-play regional data collection and information presentation dashboard products provider with international system integration consultancy, superior value-priced services and reliable delivery for both private and government sector clients.<br /><a href="http://www.kael-tech.com">www.kael-tech.com</a><br /><br /><strong>NEC Corporation</strong><br />NEC aims to provide the best solutions to its customer by experimenting through innovation as the key for success. The company has been at the cutting edge of research and development in its field for over a century. NEC is committed to serve specific needs of the customers. Being a leader in solutions provider for broadband networking and mobile internet, NEC focuses on two key domains -- IT Network integrated solutions and semiconductor solution.<br /><a href="http://www.nec.com">www.nec.com</a><br /><br /><strong>NEC Eastern Europe Ltd.</strong><br />A company based in Hungary focused on the subject of telecommunication and cover all the telecommunication sector, including both fix and wireless solution. The company has experienced in cooperation with many telco companies and mobile operators from Hungary and surrounding countries. The company also has strong relationship with NEC Corporation and give technical assistant not only in Hungary but also in CEE.<br /><a href="http://www.nec.hu/">www.nec.hu/</a><br /><br /><strong>PT. Voksel Electric Tbk.</strong><br />PT. Voksel Electric Tbk. (&ldquo;the Company&rsquo;) was established in Jakarta on April 19, 1971. Since 1989, the Company became a foreign capital investment through a joint venture agreement with Showa Electric Wire &amp; Cable Co. Ltd Japan (&ldquo;Showa&rsquo;). In concurrent with its aggressive growth strategy, the Company issued its initial public offering in the Jakarta<br />and Surabaya Stock Exchanges on December 20th 1990. Through consistent hard work and dedication from all management and employees, the Company soon positioned itself<br />as one of the leading cable manufacturers in Indonesia. The Company&rsquo;s core businesses include manufacturing of power, telecommunication and fiber optics cables.<br /><a href="http://www.voksel.co.id">www.voksel.co.id</a><br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=7</link>

<category>Partners</category>


</item>  

<item>

<title>Subsidiary Company</title>



<content:encoded><![CDATA[Today, Alita is growing stronger than ever and consistently fulfilling our creed to become the total solution provider and world Class Company in the challenging ICT industry. During its years of operation, Alita has expanded the company&#39;s business to the highest level. The company is now moving forward with its 9 subsidiary companies. Each of them giving the best services in its field. <br />&nbsp;<br /><strong>ALITA NASIO KALYANAMITRA</strong> specializing in CME &amp; Building Construction, <br /><strong>&#8232;ALITA PROCESS INOVASI </strong>in Business Process Outsourcing, &#8232;<br /><strong>BUANA SELARAS GLOBALINDO</strong> in Telecommunication System &amp; Accessories Trading,<br /><strong>&#8232;HOPETECH INDONESIA </strong>in Smart Card provider,&#8232;<br /><strong>NASIO KARYA PRATAMA</strong> in Telecommunication system supplier, integrator and O&amp;M<strong><br />NUTECH INTEGRASI </strong>in Smart Card System, Infrastructure &amp; Applications, and &#8232;<br /><strong>SMART APLIKASI INDONESIA</strong> in Smart Card Solution <br /><strong>SUMBER SINAR MENTARI </strong>in Printing Technology.<br />Working on its vision to become the excellent world class company and trustable partner, Alita spreads its business internationally by setting up our branches under <strong>ALITA EUROPE </strong>and <strong>ALITA CAMBODIA</strong>, which serves as a global total solution provider company. <br />&nbsp;<br />With the spirit of &quot;bridging the business partners a closer distance&quot; Alita Europe intents to bring closer the emerging markets in the region by offering mutual networking between Indonesian businessmen and global partners.&nbsp; <br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=6</link>

<category>Subsidiary Company</category>


</item>  

<item>

<title>Business Power</title>



<content:encoded><![CDATA[The current competitive arena for ICT business has changed dramatically over the last few years. With new business challenges facing the clients, we are determined to make new strategic choices in terms of services offered, handling new types of technology and improving technology life-cycle management. <br /><br />We keep growing and advancing as the total solution provider and world class company in the challenging ICT industry. We provide and serve our clients with best solutions and exceptional services, to maximize client&rsquo;s satisfaction and, most importantly, minimizing errors. <br /><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=5</link>

<category>Business Power</category>


</item>  

<item>

<title>Value</title>



<content:encoded><![CDATA[Alita serves the most accurate services and satisfying alternatives for clients who demand highly innovative technology solutions to lower cost and increase the effectiveness of operation. <p>The company achieved its reputation as the excellent world class company and trustable partner, through Indonesian resources and competencies by empowering the excellence of human resources in the group, capitalizing its value, and expanding global strategic partner. Through its fundamental corporate value (passion, integrity, and excellence), Alita is more than obligated to deliver an excellent performance on each given projects. </p><p>&nbsp;</p><br />]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=4</link>

<category>Value</category>


</item>  

<item>

<title>Vision &amp; Mission</title>



<content:encoded><![CDATA[<strong>Vision&#8232;</strong><br />Becoming the Excellent World Class Company and Trustable Partner through the Indonesian Resources and Competencies<br />&nbsp;<br /><strong>Mission&#8232;</strong><br />Empowering excellent Human Resource in the Alita Group<br />Capitalizing Group&#39;s Value&#8232;<br />Expanding strategic partner]]></content:encoded>

<link>http://alita-indonesia.com/read.php?gid=3</link>

<category>Vision & Mission</category>


</item> 
</channel>

</rss>
